Reklame Balikpapan Hari Ini | Sebuah Kajian Kritis

Krisis listrik di Indonesia yang kita rasakan hingga hari ini memang menjadi sesuatu yang memprihatinkan bagi kita semua. Khususnya Balikpapan sebagai kota berkembang, kebutuhan akan listrik yang selalu bertambah setiap tahunnya dan tidak seimbang dengan penyediaan yang dilakukan oleh instansi kelistrikan.

Sebagai bagian dari masyarakat Balikpapan & sebagai praktisi reklame interior yang menggunakan listrik, kami merasa ikut bertanggungjawab untuk hal ini. Reklame interior/outdoor merupakan salah satu pengguna daya listrik yang juga memiliki porsi khusus dalam pemakaian listrik per harinya.

ijin-reklame-balikpapanSebagai salah satu Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam pajak reklame Balikpapan, tentunya izin reklame dan pemasangan listriknya tidak seselektif pada pemasangan listrik untuk rumah. Biasanya ijin reklame hanya melalui Badan Perizinan dan Investasi Daerah (BPID) dan Dispenda.

Ironisnya, listrik yang dibutuhkan untuk menyalakan sebuah reklame kadangkala lebih besar dari yang dibutuhkan untuk menghidupkan sebuah rumah. Tidak ada kajian tarif pajak khusus reklame untuk menyeleksi penggunaan listrik sebuah reklame. Pemerintah tetap membolehkan pemasangannya dengan alasan untuk mendongkrak perhitungan PAD pajak reklamenya. Paling-paling hal yang diributkan hanya sebatas lokasi, tinggi reklame, pajak retribusi dan konstruksinya.

Berbagai macam bentuk reklame interior/outdoor, mulai dari neonsign, neonbox dan lampu sorot, semua menggunakan listrik. Bila dijumlahkan konsumsi listrik dari beberapa reklame besar tentu akan kita dapatkan besaran watt yang membuat kita kaget.

Apalagi iklim kompetisi usaha di Balikpapan membuat kebutuhan akan iklan makin hari makin meningkat. Di kota-kota lain, hal ini telah menjadi perhatian bagi pemerintahnya. Contoh di Jakarta mensyaratkan pengusaha reklame untuk menggunakan Timer untuk mengatur waktu nyalanya diluar dari jam puncak pemakaian listrik.

Kami yakin pasti ada jalan tengah antara krisis listrik yang kita rasakan dengan bagaimana melayani kebutuhan klien akan reklamenya. Intinya, bagaimana cara menghemat listrik dalam penggunaan reklame? Syukur-syukur, reklame tersebut malah tidak menggunakan sumberdaya listrik yang disediakan oleh PLN. Mungkinkah?

3 tanggapan pada “Reklame Balikpapan Hari Ini | Sebuah Kajian Kritis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.